This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 27 September 2012

Kumpulan Puisi Persahabatan


Kumpulan puisi sahabat berikut ini merupakan bentuk apresiasi dari seorang sahabat kepada karibnya dimana ia sadar bahwa persahabatan itu sangatlah penting dan intim. Semoga puisi sahabat ini dapat memberikan inspirasi buat anda untuk selalu menjalin hubungan baik dengan orang di sekitarmu.


Kumpulan Puisi sahabat

Sahabat Sejati

kian lama hidup yang ku jalani
selalu bersama mu sahabat ku
susah sedih senang yang ku rasakan
bersama mu sahabat ku

sahabat
begitu banyak kenangan yang kita lalui
ke bahagian yang selalu kita rasa bersama
namun musnah dengan sekejap
telah di renggut oleh maut yang tak terduga

sahabat
kini kau telah pergi meninggalkan ku
meninggalkan semua kenangan kita
menyimpulkan sebuah air mata
yang terjatuh di pipi ku

sahabat
meski kini kita tak bersama
meski kita telah berbeda kehidupan
namun kita tetap satu dalam hati dan cinta
karena kau sahabat sejati ku

selamat tinggal sahabat ku
selamat jalan sahabat sejati ku
cinta kasih mu kan selalu satu di hati ku
selamanya ………

karya :zhulva

Bersamamu Aku Tegar

Ku sadar..disini arti ketulusan yang sesungguhnya
Yang tak kudapati...di tempat lain!
Ku mengerti..makna kebersamaan yang sebenarnya
Hanya denganmu..bukan yang lain!

Disini juga, tak pernah ada kebohongan, seperti tempat lain
Semua berjalan jujur, tanpa pura-pura
Ini bukan basa-basi...seperti kata politisi
Sahabatku.....arti kejujuran yang nyata

Tawa dan canda terdengar lepas di semua bahagiaku
Tangis pun mengalir pilu di setiap dukaku
Kurasakan beban itu, bukan apa-apa
Selagi bisa kita berbagi dalam suka dan sedih

Sahabatku, Tuhan telah mengirim malaikat
Yang bersemayam di jiwamu
Kini kutau mengapa? Tuhan memilihmu
Hadir diantara tawa dan tangisku

Engkau adalah pilihan dari kehendak-Nya
Sahabatku, waktu terus berjalan..itu artinya
Harus melangkah terus kedepan
Jalan ini sangat panjang, takkan kuat sendirian

Beratnya hidup, harus diperjuangkan
Sahabatku, bersamamu aku hidup
Bersamamu aku tegar
Tak goyah, meski di hadang badai

Sahabat..! yakinlah
Bersama, kita akan tegak berdiri
Jangan pikul sendiri semua beban
Biarlah segala menjadi milik kita

Tentang Sahabatku

Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan

Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan

Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian

Wahai angin pengembara
kabarkanlah kepadaku tentang dirinya

Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran

Sahabatku adalah derasnya hujan yang turun
yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun
hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun
dalam kesucian

Sahabatku adalah untaian intan permata
yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara
hingga mampu menebar pesona jiwa
dalam keindahan

Wahai burung duta suara
ceritakanlah kepadaku tentang kehadirannya


SAHABAT ITU.....
Puisi Psycho

Selalu hadir dalam kehidupan kita
Baik itu senang atau susah
Tak perlu berkata ia pasti mendengar
Semua cerita akan tercampur dengan bumbu kisahnya
Menegur kala kita salah mengambil langkah
Menyokong kala kita mengangkat satu keputusan
Bertanggung jawab walau tak ikut menyebabkan
Meniupkan hawa kedamaian kala kita terbalut dalam emosi

Dan…
Selalu seperti itu hingga takdir memisahkan

Aneka Cara Membuat Blog

Aneka cara dapat kita lakukan dalam pembuatan blog.

Seperti contoh pada:

 1.Cara membuat blog di Blogspot:

  1. Pastikan anda sudah memiliki email sebelumnya. Untuk cara membuat email di google, bisa dilihat disini.
  2. Masuk ke blogger.com
  3. Pilih New Blog
  4. Pilih judul blog yang anda inginkan beserta URLnya
  5. Selesai! Anda kini sudah memiliki blog di blogspot.

2.Membuat Blog di WordPress

WordPress sebenarnya terdiri atas 2 versi, versi gratis dan berbayar. Kali ini kita akan membahas situs gratisnya, wordpress.com

Cara Membuat Blog di WordPress:cara-membuat-blog-wordpress

WordPress terkenal dengan sistem registrasi blog yang super cepat.
  1. Masuk ke wordpress.com
  2. Klik tombol Get Started Here
  3. Pada halaman selanjutnya masukkan URL blog, judul blog, username, password dan email anda.
  4. Klik Create Blog.
  5. Selesai!! Cepat kan?

3.Membuat Blog di Tumblr

Diantara ketiga nama yang kita bahas kali ini, Tumblr merupakan yang termuda, namun tetap aja ngeblog di Tumblr asyik.
Tumblr lebih cocok kalau anda ingin cara-membuat-blog-tumblrmenulis yang tidak terlalu panjang dan banyak menampilkan foto. Kalau anda narsis, pilihlah Tumblr.

Cara Membuat Blog di Tumblr:

  1. Masuk ke tumblr.com
  2. klik sign up
  3. masukkan email, username dan Password yang anda inginkan lalu klik start.
  4. pilih URL dan judul blog yang anda inginkan
  5. Selesai.

Cara Membuat Blog Pada WordPress

Yang harus ada sebelum memulai membuat blog di WordPress.com ini adalah email. Jika Anda belum punya, silahkan membuat email terlebih dahulu. Saya asumsikan Anda sudah mempunyai email, ikuti langkah-langkah/cara berikut untuk membuat blog wordpress.com:
  1.  Jalankan browser Anda kemudian buka http://www.wordpress.com. Tunggu hingga muncul tampilan awal WordPress.com.
  2. Klik Get Started Here
    cara membuat blog wordpress
  3. Isi formulir yang telah tersedia,
    cara membuat blog wordpress
    kemudian klik Create Blog.
  4. Selanjutnya Anda diminta untuk melakukan aktivasi blog dengan cara mengeklik link yang dikirimkan ke email Anda.
    cara membuat blog wordpress
  5. Klik link yang ada di pesan email Anda.
    cara membuat blog wordpress
  6. Setelah Anda klik link tersebut maka Anda akan langsung menuju halaman dashboard. Ini artinya akun Anda telah aktif dan blog Anda telah jadi.
    cara membuat blog wordpress
  7. Selesai.
Nah, itu tadi cara membuat blog wordpress.com. Cepat, mudah, instan, dan gratis. Selamat mencoba

Puisi Cinta

With Love to You

With love to you... wherever you are.
My heart doth send to thee.
Rivers wide and mountains tall
Separate you from me.

Looking at pictures of you and I
Seems to bring you close.
But hearing our song being played
Brings you near the most.

I remember us dancing to that tune,
Under the shade of a tree.
That day in the park together,
Our spirits running wild and free.

Whenever I feel gloomy,
I think of you and can't help but smile.
Though it doesn't last forever,
At least it lasts for a while.

Arti Puisi Cinta Bahasa Inggris

Dengan Cintamu

Dengan cintamu ... dimanapun kamu berada
Sesungguhnya Hatiku selalu bersamamu
Sungai lebar dan pegunungan tinggi
Memsihkan kita berdua

Melihat Foto kita berdua
Membuatmu semakin terasa jauh
Namun mendengar lagu yang kita nyanyikan
Membawa kita kembali mendekat

Aku ingat kita menari untuk lagu itu,
Dibawah naungan pohon.
Hari itu di taman bersama-sama,
Roh kita berjalan liar dan bebas.

Setiap kali aku merasa suram,
Aku melihat kamu tidak bisa menahan senyum.
Meskipun tidak berlangsung selamanya,
Setidaknya itu berlangsung untuk sementara waktu.

Jumat, 14 September 2012

  • Luangkanlah waktu anda seraya mengisi kekosongan dengan hanya sekedar membaca cerita, untuk lebih menambah pengalaman anda.“

Senyumku Mengandung Duka


“CIHUUUYYY........!”
         Aji jingkrak-jingkrak. Orang-orang di terminal pada melototin. Ada apa tuh anak? Apa sudah nggak waras? Aji nggak menghiraukan. Baginya gembiranya ya gembiraku juga. Aji sudah mangkal sejak sebuh menunggu penjaja koran. Hari ini kan pengumuman SPMB, jadi bela-belain bangun subuh untuk lihat hasil SPMB. Biasanya kalau Mama belum membangunkan, boro-boro mau bangun subuh. Soalnya kalau kesiangan, penjaja koran sudah nggak butuh duwit lagi.
         Ini kan kesempatan. Semua orang butuh koran untuk melihat hasil SPMB anaknya, cucunya, adiknya, atau dirinya sendiri. Jadi terpaksa, meski harganya selangit, orang tetap beli. Mungkin ini rezekinya penjaja koran setahun sekali, bukan hanya Lebaran saja yang setahun sekali. Di terminal penjaj koran berseliweran.
         “De, De! Koran!” panggil Candra menimpali deru mesin kendaraan, seusai turun dari angkutan kota.
         “Berapa?”
         “Sepuluh ribu,” sahut anak kecil penjajan koran.
         “Sepuluh ribu? Mahal banget! Biasanya kan tiga ribu...” ujar Candra sambil membuka lembaran koran.
         “Untuk hari ini, kata agen sepuluh ribu, Om.”
         Tanpa banyak tanya, Candra memberikan uang sepuluh ribu. Dia meneliti urutan nomor yang tertera. Suasana terminal disibukkan oleh para penumpang yang hilir mudik.Teriakan para kondektur menawarkan jasa menambah semarak.
         “Cihuuuyyy...!” terdengar teriakan di pintu luar terminal, belum sempat Candra meneliti semua rentetan nomor.
         Bah, apa Aji diterima? Kelihatannya gembira banget, pikirnya. Ia meneliti ulang lembar demi lembar dengan harap-harap cemas hingga tuntas. Penasaran. Diteliti kembali hingga lima kali. Gagal, deh!
         “Hey, Ji! Lo diterima?” tanya Candra menghampiri.
         “Nggak,” jawabnya santai.
         “Kok, kelihatannya lo gembira betul?”
         “Jelas dong. Soalnya, dengan kegagalan ini gue jadi sekolah ke Inggris.”
         “Yang bener?” Candra antar percaya dan tidak.
         “Kenapa tidak? Gue disana tinggal sama Om gue.
         “Sipa om lo?”
         “Pangeran Charles”
         Dasar, Aji bikin hati deg-deg plas! Kirain diterima. Eh bener lho! Aji mau sekolah ke Inggris. Dia di sana punya om yang usahanya cukup sukses. Makanya sewaktu mau ngadepin SPMB belajarnya ogah-ogahan biar nggak diterima, katanya. Lain, sih.....orang kaya. Kita mau diterima di universitas favorit, dia malah melalaikan.
         Candra melangkah gontai seraya enggan untuk berjalan. Dambaan sirna, hilang semua harapan, hilang semua impian, kini tinggal kenangan. Harapan kandas, cita-cita lepas, uang selama tiga tahun terkuras! Apakah ini cobaan? Kita tanya pada rumput yang bergoyang.
         “Bagaimana, Can? Diterima?” Mama menyambut dengan pernyataan di teras depan.
         “Nggak Ma,” ujar Candra lesu.
         Ia melintasi Mama. Mukanya muram. Lalu meletakkan koran yang tergulung kumal. Ia merebahkan tubuhnya. Pikirannya menerawang jauh.......
         “Ya sudah kalau nggak diterima kan masih ada kesempaan tahun depan, lagi pula universitas swastapun banyak yang statusnya disamakan dengan luar negeri,” ujar Mama bijaksana.
         “Ke swasta biayanya mahal, Ma.”
         “Mahal-mahal juga akan Mama usahakan kalau kamu benar-benar mau sekolah!’
         “Nggak mau, Ma! Mendingan Candra ikut kursus saja. Biayanya ringan, ilmunya padat, sekalian nunggu kesempatan buat tahun depan.”
         “Itu terserah kamu, Mama Cuma menyarankan.”
         “Tapi Ma....” suara Candra terpotong.

“Kriinggg.....!Kriinggg....!”

         Candra bangkit, lalu mengangkat gagang telepon.
         “Halo, siapa di sini? Eh, siapa di sana?” tanya Candra membuka pembicaraan.
         “Hai, Can! Selamat, ya!” ucap suara di seberang.
         Candra mengenal suara anak di seberang sana. Pasti Iin.
         “Selamat? Selamat apa? Selamat siang, pagi?”
         “Selamat menempuh hidup baru! Bukan ding. Selamat diterima di Perguruan Tinggi Neger.”
         “Apaan? Gue diterima aja nggak”
         “Mungkin lo salah lihat. Coba teliti halaman dua!”
         “janagn bikin ge-ger,ah! Awas kalo ngibul, gue jitak!”
         Candra menyanbar koran yang sudah kumal, gagang telepon diletakkan tidak pada tempatnya. Iin di seberang memaki-maki karena belum sempat berbicara panjang lebar. Mata Candra meneliti lembaran dua, lalu melototi namanya. Apa bener ini nama gue? Mencocokan nomornya. Keajaiban? Mama melihat tak bereaksi.
         “Cihuuuuyyyy...! Candra diterima, Ma.!” Ia memekik dan merangkul Mama sambil menciumi bertubi-tubi.
         “Alhamdulillah!” ucap Mama serambi menepuk pundak Candra. “Tapi gagang teleponnya diletakkan yang betul dong!” lanjutnya.
         “Iya Ma.....Candra lupa.”
         “Halo?”
         Nggak ada sahutan. Ke mana si Iin? Apa dia dongkol? Sori,In. Makasih atas informasimu.
         Bergegas Candra menyambar kunci di atas bufet meninggalkan Mama yang asyik dengan sulamannya.
         “Mau kemana, Can?” tanya Mama.
         “Ke tempat Fida,” suara Candra hilang dibalik pintu.
         Deru motor meninggalkan rumah bercar putih. Mama Cuma bisa geleng-geleng kepala. Motor melaju dengan cepat. Jalanan ramai hari Sabtu ini. Terminal sangat kotor oleh sobekan kertas SPMB. Petugas kebersihan jadi sibuk dibuatnya.
         “Priittt....”

         Candra menoleh, “Wah, polisi. Ada apa gerangan? Ya amplop! Lupa pakai helm. Alamat, kena nih....!”

         “Kenapa nggak pakai helm?” tanya polisi tegas.
         “Lupa, pak,” ujar Candra jujur.
         “Bawa surat-surat kendaraan?”
         Candra mengeluarkan dompet dan mengambil SIM dan STNK. Polisi memeriksa lalu manggut-manggut.
         “Sudah sana!” perintah polisi.
         Candra lantas membelokkan motornya ke gang. Pintu rumah yang dituju terbuka lebar dan tanpa permisi ia nyelonong masuk.
         “Fid!” panggil Candra.
         Ia ingin menyampaikan rasa gembira tapi urung melihat Fida duduk di kursi.
         “Fid, lo sakit?” Candra menghenyakkan pantatnya di sisi Fida. Wajahnya tertunduk seakan beban berat menggayuti dirinyan. Ada masalah apa ini?
         “Fida, ngomong dong! Kalau ada masalah katakan saja!”
         “Ngomong....” hanya itu yang terucap, bibirnya ogah bicara.
         “Aduh, Fid. Kalo lo diam terus, mana ada jalan keluarnnya? Terus terng aja! Kita pecahkan bersama.”
         Fida diam seribu bahasa. Lidahnya kelu untuk berucap. Suasana hening, hanya semilir angin menggoda dedaunan. Candra linglung harus berbuat apa, berbicara, takut menyinggung perasaannya. Apa karena nggak diterima di PTN? Atau masalah keluarga? Tapi biasanya kalau ada masalah ia selalu terbuka, sekalipun itu masalah pribadi. Beratkah beban yang diderita Fida? Candra bertanya-tanya.
         “Sorry,Fid, kalau kedatangan gue menambah beban fikiran lo” ujar Candra memutuskan.
         Bangkit. Tiba-tiba tangn Fida mencekal erat.
         “Hahaha.....!” tawa Fida lepas.
         Sandiwara apa ini? Apa Fida gila? Gara-gara nggak diterima di PTN?
         “Fida! Fida! Apa lo sudah gila?” Candra mengguncang-guncang bahu Fida.
         “Hahaha....! Siapa yang gila? Gue tidak gila! Candra, Candra.... Ternyata lo bisa dikelabuhi.
         “Huh, permainan apa ini?” Candra membanting pantatnya di kursi.
         “Untuk apa gue masuk teater kalau main sandiwara aja nggak bisa?” Fida mesem-mesem.
         “Sialan lo!” ujar Candra kesal.
         “Can, lo diterima nggak di PTN?” tanya Fida serius.
         “Terima dong,” ujar Cadra serambi meluruskan tubuhnya di kursi. “Lo?”
         “Terima dong!” Fida menuruti ucapan Candra.
         “Mama di Bandung udah diberi tahu?” tanya Candra.
         “Ya udah lah. Tadi langsung telegram. Ngg.... katanya, kalau diterima di PTN, mo nraktir?” tagih Fida.
         “Iya deh.....” sahut Candra.
         Mereka berdua langsung cabut keluar dari kos Fida. Di luar udara cerah secerah dua sejoli dalam menikmati masa remaja. Angin semilir. Di langit bintang berkedip-kedip.
         “Iin diterima nggak ya, Fid?” tanya Candra membuka pentanyaan.
         “Siapa?” tanya Fida heran.

         “Iin.”

         “Ooo... katanya sih diterima. Memang kenapa?”

         “Nggak, soalnya dia yang ngasih tahu gue diterima di PTN. Tadinya gue udah strss berst, ngeliat nama gue nggak ada. Eh, taunya dia nelpon...kirain bohongan!”
         Candra mengunyah bolu donatnya, sementara Fida asyik mengaduk minuman yang semakin dingin. Pengunjung semakin sepi,  bangku-bangku mulai kosong. Malam kian larut. Candra memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Tangannya terasa dingin. Fida mendekap erat, binatang malam menepis muka.
         “Can, kalau mau daftar ulang, jemput gue ya...?” pinta Fida sesampainya di tempat kosnya.
         “Siipp!”
         Tiba-tiba di pintu sebelah muncul tetangga kos Fida.
         “Fida, tadi sore ada yang nganter surat!”
         Lia nama tetangga kos Fida ini menyodorkan surat bersampul putih. Pengirimnya dari Bandung. Isinya pasti kiriman, pikir Fida.
         “Sreeett....”
                          Buat Ananda Fida
Mama gembira sekali menerima kabar kamu diterima di PTN, tapi sekarang Mama mohon Ananda pulang dulu ke Bandung karena ada sesuatu.
         Sesuatu? Jangan-jangan ada yang nggak beres! Candra yang hampir melintas pintu gerbang menghentikan laju motornya.
         “Candra! Candra!” pekik Fida serambi berlari kecil.
         “Ada apa?”
         “Tunggu gue sebentar!”
         Fida kembali ke rumah membereskan pakaiannya dan memasukkan ke tas.
         “Anterin gue ke terminal!”
         “Ngapain malam-malam gini ke terminal? Ngeceng!?” gurau Candra.
         “Gue mau ke Bandung.”
         “Malam-malam begini? Besok kan masih ada waktu??”
         “Ayo, udah! Mau ngnter nggak?” tanya Fida kesal.
         Candra menurut. Motor menembus kebisuan malam yang pekat. Bus malam ditumpangi Fida sarat oleh penumpang. Perjalanan malam terasa menjemukan. Pikiran Fida menerawang. Perasaan tak menentu. Benarkah yang dikatakan Rudi tempo hari Mama sakit? Tapi nggak mungkin Rudi bergurau. Mungkin saja Mama sakit. Dulu Mama pernah shock berat gara-gara ulah Rina, sang adik yang tiap malam keluyuran melulu. Ugal-ugalan di jalan. Belum lagi tingkah Andre. Saban hari minta uang melulu. Mending kalau masih ada Papa. Semuanya memang tak tahu diri! Huhh... Fida menepis bayangan.
         Ia menoleh keluar. Malam amat pekat. Di dalam bus. Rasa penat semakin menyekat. Fida membuka jendela kaca. Angin dingin memenbus. Hawa dingin menyapa. Di samping Fida terdapat kakek-kakek yang tertidur pulas. Menyebalkan! Penumpang bus terlelap. Fida memaksakan memejamkan mata, tapi sulit.
         Pukul 08.00, Fida sampai di Bandung. Rumah sepi. Terlihat Mang Udin sedang menyapu.
         “Kok sepi, Mang?” sapa Fida.
         “Eh, Non! Baru datang?” ujar Mang Udin menyambut ramah.
         Fida meneliti. Terlihat sesuatu yang janggal.
         “Mama mana, Mang?” tanya Fida.
         Tangannya meletakkan tas. Mang Udin tertunduk seakan tak mendengar pertanyaan Fida.
         “Mama ada, Mang Udin?” ujar Fida mempertegas.
         “Mama sudah pulang,” kata Mang Udin perlahan.
         “Pulang kemana? Ketempat nenek?
         “Bukan,ta......tapi ke Rahmatullah!” ujar Mang Udin.
         Air matanya menggenang.
         “Mamaaa.......!!!” jerit Fida.
         Ia menabrak pintu yang tertutup.

         “Braaaakkk....!”

         Di ruangan ia mencari Mama tapi tidak ada. Terlihat foto berbingkai Mama tersenyum mengembang. Air mata Fida tak bisa dibendung. Ia mendekap foto Mama dan menghenyakkan pantatnya di sisi dipan. Maa........ mengapa tinggalkan Fida? Fida sama siapa? Kembali, Mama..... batin Fida menjerit lirih. Perasaan seperti disayat sembilu. Ia tak kuasa menahan tangis. Wajahnya ditelungkupkan ke bantal.
         “Sudahlah,Fida! Biarkan Mama pergi dengan tenang!”
         Tante Mia menghibur. Ia pun turut larut dalam duka. Tangannya membelai rambut Fida.
         Keesokan harinya, Fida melayat kuburan Mamanya bersama Tante Mia. Ia menyesali perbuatannya, mengapa harus segera memberi kabar bahwa ia diterima di PTN? Shock Mama kambuh oleh rasa gembira. Fida menaburi bunga di atas tanah merah yang menggunung, matanya sembab karena tangis, tubuhnya lesu. Fida bersimpuh di sisi kuburan Mama.